Tari Remo, Kesenian Tradisional dari Jatim

NURUL AMIN

Di era globalisasi saat ini perkembangan teknologi semakin canggih, kemudahan akses informasi ikut serta membawa perubahan terhadap kebudayaan manusia. Manusia saat ini berbondong-bondong meninggalkan gaya hidup “kolot” menuju gaya hidup modern, sehingga budaya-budaya warisan leluhur mulai terkikis oleh zaman. Tak terkecuali di Indonesia. Masyarakat Indonesia saat ini banyak dipengaruhi oleh budaya-budaya barat, sehingga sudah jarang ditemukan budaya-budaya
nusantara warisan leluhur yang masih terjaga dengan baik oleh generasi penerusnya, sebab lebih tertarik pada budaya barat.

Budaya Indonesia sangat banyak yang harus kita lestarikan atau paling tidak kita ketahui asal usulnya, salah satunya yakni, Tari Remo.

Baca Juga : Mengenal lebih lanjut, Sistem Pertahanan Tubuh Terhadap Penyakit

Tari Remo merupakan salah satu tarian penyambutan tamu Agung yang dibawakan oleh seorang atau beberapa penari. Tarian ini berasal dari Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur. Dari kecamatan Diwek di desa Ceweng. Dahulu tarian ini hanya digunakan untuk pertunjukan ludruk, namun kini digunakan untuk tamu kenegaraan dan konser seni daerah.
Tarian ini menceritakan perjuangan sang pangeran dalam peperangan. Namun tarian ini lebih sering ditarikan oleh kaum wanita, yaitu Remo Putri atau tari putri gaya remo. Menurut sejarahnya, tari remo diperuntukkan khusus bagi laki-laki. Dalam pertunjukan remo putri, kostum yang digunakan berbeda dengan remo putra.
Pada tari remo, gerakannya lebih banyak menggerakkan kaki. Pada bagian kaki penari memakai lonceng, sehingga pada saat bergerak terdengar bunyi lonceng. Kostum yang digunakan adalah: Gaya Sawunggaling, Surabaya, Malang, dan Jombang.

Gaya Surabaya

Ikat kepala berwarna merah, baju hitam tanpa garis-garis, celana dengan benang emas, sarung batik pantai selutut, stagen, keris di bagian punggung. Penari memakai dua selendang, satu di pinggang, satu lagi di bahu. Penari juga memakai gelang kaki.

gaya Magelang
Mirip dengan gaya Surabaya, namun bedanya orang memakai celana panjang.

Gaya Jombangan
Mirip dengan gaya Sawunggaling, namun yang membedakan adalah penarinya tidak memakai kemeja melainkan rompi.

Gaya Sawunggaling
Mirip dengan gaya Surabaya, namun bedanya adalah dengan memakai kemeja putih lengan panjang.

Ada begitu banyak cara untuk menjaga Budaya Nusantara agar tetap lestari dan dikenal oleh generasi selanjutnya. Namun yang terpenting adalah Para generasi muda harus punya rasa cinta terhadap Budaya Nusantara. Dengan adanya rasa cinta, maka akan timbul sikap untuk menjaga kebudayaan tersebut.

by Anisa Agustina XI IPA

Baca Juga

Bagikan:

Tags