“Mengejar Cita – Citaku” Karya Tulis Suci Rahmawati siswi kelas X MIPA

NURUL AMIN

Namaku Suci Rahmawati, Aku biasanya di panggil Suci di kalangan teman-temanku. Aku mempunyai adik 1 namun berbeda ayah yang sekarang sudah bersekolah paud. Aku terlahir di keluarga yg berkecukupan, Sejak kecil aku bercita-cita menjadi pengusaha sukses …..

Aku tinggal di sebuah desa yang damai dan rukun, yaitu Pondok Sari yang bertepan di kota lumajang, Akan ku ceritakan kisahku dulu mingenai tentang cerita Cita-citaku…

Hari ini aku mendapatkan pertanyaan dari sepupuku yang membuatku terkejut, begini pertanyaannya “Suci, menurutmu cita-cita itu bagaimana?” Aku terdiam sejenak lalu menjawab.” Cita-cita itu bagaikan pensil. Jika kita ingin meraihnya maka kita harus berusaha dan berkerja keras seperti halnya meraut pensil agar menjadi runcing. Namun jika kita tidak bersungguh-sungguh maka kesempatan kita menjadi kecil bahkan pupus seperti pensil yang semakin hari semakin pendek bahkan hilang. “Tapi yang menjadi pertanyaan, Apakah aku bisa menggapai Cita-cita ku itu!”

Di pagi hari yang cerah aku membuka pintu jendela kamarku, aku melihat beberapa burung yg sedang berkicau akupun termenung dengan berpikir bagaimana nasibnya di masa depan nanti ” Apakah aku nantinya bisa menjadi orang yang sukses” tanyaku dalam hati, dan aku ingin membahagiakan kakek,nenek beserta ibuku dengan kerja kerasku sendiri

Tiba-tiba ibuku memegangku lalu bertanya “Kenapa nak. ? Iya bu..! Kenapa kamu termenung nak ? ada apa coba cerita ke ibu… tidak ada apa-apa bu, kalau begitu kamu bisa membantu ibu…? bisa bu. Setelah membantu ibu aku termenung kembali untuk ke dua kalinya.” pokoknya aku harus menjadi orang yang sukses” Kataku dalam hati.

Matahari mulai terbit jam sudah menunjukkan pukul 06:05 wib saya mulai menyandangkan tas dan memakai sepatu untuk pergi kesekolah dan aku pamit kepada kakek, nenek beserta ibuku sambil mencium tangan mereka. Dalam perjalanan saya bertemu dingan Faza teman sekelasku, lalu ia bertanya kepaku “Ci apakah kamu memiliki cita-cita? “ya saya mempunyai Cita-cita yaitu ingin menjadi pengusaha yang hebat !” “Za Cita-citamu ingin menjadi apa?” “kalau aku ingin menjadi….?? Faza pun terdiam dan tersenyum” “kok kamu diam saja za…! “Ooo gapapa ci..!” “Jadi, Cita-citamu ingin menjadi apa za! “kalau aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku Ci.” Ooo begitu ya”. Aku terus berjalan dengan kebingungan sampai di sekolah saya merasa ada yang kurang karena tidak ada teman-teman yang datang.

Bel masuk pun telah dibunyikan semua siswa-siswi berbaris di lapangan untuk mendengarkan informasi yang di sampaikan oleh para guru pada siswa-siswi setiap paginya.. Setelah berbaris, saya masuk ke kelasku. Di dalam kelas tiba-tiba temanku memanggil “Suci… ciii !!! Siap pr matematika…? Ooo pr matematika, kalau aku sudah siaр “kalau kamu…?” kalau aku sih belum selesai. “Suci bolehkah aku pinjam buku matematikamu” Tanya Faz..Boleh sih, Tapi… ada syaratnya” apa tuh !!” Syaratnya mudah kok, kamu harus menjawab pertanyaanku. Yaitu apakah kamu memiliki Cita-cita? Ya aku mamiliki Cita-cita ingin menjadi dokter” kenapa kamu ingin menjadi dokter?” Tanya saya. Ya karena aku ingin membantu orang-orang yang sakit, Agar sembuh”.Terlalu asyiknya berbicara, gurupun masuk kedalam kelas, masing-masing siswa kembali kebangkunya.

Banjar mengajarpun dimulai, asyik-asyiknya belajar, bel pun kini berbunyi, Kini saatnya jam istirahat pada saat istirahat aku membawa teman-temanku untuk pergi ke kantin dengan bersama sama sampainya di kantin saya merasa kehilangan uang, talu saya bertanya kepada temannya “Za uang ku hilang “lalu Bagaimana? kata faza” Begini saja sebaiknya kamu pakai uang ku saja untuk membeli makanan “kala faza,” terima kasih faza kamu telah menolongku, nanti kalau aku ada uang akan ku gantikan uangmu” kataku. Bel masuk telah berbunyi. Aku dan teman-teman pun masuk ke dalam kelas untuk melanjutkan pelajaran selanjutnya.

Waktupun telah berlalu, Saatnya waktu Sekolah aku tidak lupa akan tugas piketku, Pada saat membersihkan kelas saya melihat seekor burung kecil yang berusaha untuk bisa terbang walaupun ia masih ke masih kecil, Seperti itulah hidupku yang ingin meraih Cita-cita ku agar aku menjadi orang yg sukses” tanya dalam hati

Waktu pulang sekolah ia teringat sesuatu diipikirannya yaitu, Setelah pulang nanti ia harus menolong ibunya dalam pekerjaan rumah, Karena membantu ibu itu adalah tugasnya sehari hari tiba dirumah ia meletakkan sepatu dan tas nya pada tempatnya.

“Assalamualaikum bu..” Sambil mencium tangan ibunya. “waalaikum Salam” Jawab ibu. Bu bolehkah aku bertanya kepada ibu” tanyaku. “Boleh mau tanya tentang apa”? “Begini bu, Apakah ibu memiliki Cita-cita…?, “Iya, Ibu memiliki Cita-cita ingin menjadi guru, tetapi sekarang ibu sudah tua. Udah gak punya kekuatan dan ibu sekarang hanya bisa

berharap kepada anak-anak ibu agar bisa terwujud Cita-cita nya, maka dari itu kamu harus rajin-rajin belajar, Shalat dan berdo’a kepada Allah Swt dan janganlah kamu mundur dalam menuntut ilmu”. Insyaallah bu, akan aku pegang kata-kata ibu.

Demi ingin terwujudnya Cita-citaku dan kebahagiaan kedua orang tuaku biserta kakek dan nenekku. Kini saatnya aku menunjukan kemampuanku dalam belajar. Dengar kata-kata yang dilontarkan ibuku tadi aku menjadi semangat untuk melakukan apa yang dikatakan ibuku. Cita-citaku ingin menjadi seorang pengusaha yang sukses (CEO) dan bisa membahagiakan ibu, kakek dan nenek saya demi Cita-citanya akupun mengalami banyak perubahan dan menjadi aktif dalam belajar

Dengan demikian ia selalu giat belajar, berdoa dan berusaha karna tanpa do’a dan berusaha tidak akan terwujudnya suatu Cita-cita seseorang. Maka dari itu raihlah Cita-citamu setinggi langit dengan berdoa dan kerja keras.

by : Suci Rahmawati ( X MIPA )

Baca Juga

Bagikan:

Tags