MA Nurul Amin turut serta Memperingati Hari Pramuka

Tanggal 14 Agustus diperingati sebagai Hari Pramuka Indonesia, jauh sejak tahun 1961 lalu. Jelas, gerakan pramuka di Indonesia tidak bisa lepas dari peran bapak pramuka dunia, Boden Powell.

Boden Powell, atau dikenal juga dengan mana Robert Stephenson Smyth, lahir pada 22 Februari 1857, adalah penggagas gerakan pramuka dunia. Melalui bukunya dengan judul Scouting for Boys, ia membuka mata dunia atas gerakan dan nilai-nilai kepramukaan yang mendasar.

Lalu bagaimana Hari Pramuka kemudian menjadi peringatan nasional? Hal ini didorong dengan keputusan presiden Soekarno kala itu, tanggal 9 Maret 1061, untuk membubarkan semua organisasi kepanduan di Indonesia. Kala itu terdapat tiga federasi berbeda, IPINDO, POPPINDO, dan PKPI.

Peleburan ini kemudian menyatukan ketiga organisasi tersebut dalam satu nama, Gerakan Pramuka. Hal ini dilegalkan dengan Keppres No. 238 Tahun 1961 tentang Gerakan pramuka yang ditandatangani pada 20 Mei 1961.

Beberapa bulan setelahnya Gerakan Pramuka diperkenalkan secara nasional pada tanggal 14 Agustus 1961, dan menjadi titik awal perayaan Hari Pramuka Nasional yang dilaksanakan di Indonesia.

Mengingat pagi tadi bertepatan dengan tanggal 14 Agustus 2022, maka MA .Nurul Amin pun turut memperingatinya dengan mengikuti apel bersama dengan seluruh kelompok Pramuka sekabupaten Lumajang yang bertempat di Bumi Perkemahan Glagah Arum Senduro.

Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang diadakan setiap tanggal 14 Agustus setiap tahunnya sebagai peringatan hari Pramuka. Pada kesempatan kali ini, MA Nurul Amin turut serta hadir dalam acara apel dengan mengeluarkan 1 pleton putri yang berjumlah 35 orang.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Bupati Lumajang yakni H. Thoriqul Haq, S.Ag,MML, sebagai tamu VIP pagi tadi.
Kegiatan ini dilakukan dengan sangat khidmat walaupun banyak para anggota apel yang jatuh pingsan sebelum pembubaran barisan.

Di MA. Nurul Amin sendiri Gerakan Pramuka menjadi ekstrakulikuler wajib lantaran nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai kemanusiaan yang luhur, kerjasama, kolaborasi, hingga nilai filosofis tunas kelapa yang menggambarkan anggota pramuka, jelas menjadi alasan mengapa gerakan ini jadi ekskul wajib.

Sintiya Nuriyanti, S.Sos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *