Bahagia Itu Sederhana

Setiap orang punya definisi tentang kebahagiaannya masing-masing. Ada yang menganggap kebahagiaan adalah ketika semua tujuan hidup mampu tercapai. Ada yang menilai kebahagiaan adalah ketika berhasil menyelesaikan semua masalah, ketika mendapatkan sesuatu dari orang tersayang, dan lainnya.

Kebahagiaan yang saya rasakan di Madrasah Aliyah Nurul Amin Rojopolo tidak akan di lupakan sampai kapanpun karena banyak hal – hal lelucon ( Di lembaga kita setiap minggu mempunyai kegiatan masak bareng dan lanjut makan bareng, touring bareng, saling sharing, kerjasama sangatlah erat di lembaga kita, contohnya: kita mengerjakan pekerjaan selalu bergotong royong, setiap kumpul pasti kita dapat hal – hal yang membuat kita ketawa dalam tutur bahasa yang unik begitupun terkadang aneh hehe, kebagiaan ini tidak akan mungkin madrasah lain punya. “Kebahagiaan tercipta bukan hanya dari harta dan tahta, tapi sesederhana kebersamaan kita mampu membuatku menjadi makhluk yang paling bahagia.” Tutur: Nurul Istiqomah, S.Pd

Staf Madrasah Aliyah Nurul Amin Rojopolo terdiri dari :

  • Kepala Madrasah : Su’udi, S.Pd.I
  • Operator : M. Dicky Lutfianto, S.Kom
  • Waka. Kurikulum : Muammar Qadafi, S.Pd
  • Bendahara : Siti Fatimah, S.Pd
  • Waka. Kesiswaan : Dwi Anggita, S.Si
  • BK : Sintiya Nuriyanti
  • Waka. Humas : Mukhlas Adi Saputra, S.Pd.I
  • Waka. Sarpras : Imam Syafi’I, S.H
  • TU: Siti Alisya
  • Dewan guru lainnya : Nurul Istiqomah, S.Pd, Vina Tri Maulina, Elin Dinata Putri, Indriani, S.Pd, M. Syarifuddin Al-Amin, S.Pd, H. Ahmad Hidayat, Ust. Hazim

Dalam ajaran Islam, memberi termasuk bagian dari akhlak mulia yang mendatangkan kebahagiaan yang berlanjut dan abadi. Bahagia dunia kemudian bahagia di akhirat kelak.Rasulullah SAW bersabda, “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat Muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beriktikaf di masjid ini–Masjid Nabawi–selama sebulan penuh.” (HR Thabrani di dalam al-Mu’jam al-Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Jaami’ no. 176). Untuk bisa memberi tidak harus menunggu kaya, tidak juga menunggu gelar akademik berderet karena memberi tidak berkaitan erat dengan kekayaan dan gelar yang berderet. Namun, berhubungan erat dengan kemurahan hati.

Hendaknya kita membina hati kita dan niscaya kita akan bahagia karena bahagia itu sederhana yaitu ketika kita mampu memberi apa yang kita miliki dengan hati yang ikhlas.

By : Nurul Istiqomah, S.Pd

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *