KLASIFIKASI PUASA DALAM PERSPEKTIF TASAWUF

Kata Puasa berasal dari lafaz shiyam dan shaum, dalam Kamus Lisanul Arabi secara umum keduanya sama-sama berarti menahan (al-imsak). Menurut Abu Hilal Al-Askari dalam Al-Furuq Al-Lughawiyah. Kata shiyam tersebut merujuk pada arti yang bersifat fikih, yaitu menahan dari sesuatu yang dapat membatalkan puasa, seperti makan, minum dan jimak mulai dari terbitnya fajar Subuh hingga terbenamnya matahari. Sedangkan kata Shaum lebih bersifat tasawuf, dalam beberapa ayat Al-Qur’an para mufasir mengartikan shaum dengan al-shamt yang bermakna diam; tidak berkata dan menahan diri dari berkata.
Setelah mengetahui defenisi puasa tersebut, kita juga harus mengetahui klasifikasi orang yang berpuasa dalam perspektif Tasawuf. Sebagaimana yang disampaikan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddinnya, bahwa ada tiga klasifikasi orang yang berpuasa. Pertama, puasa orang umum. Kedua, puasa orang khusus. Ketiga, puasa orang yang terkhusus.


Puasa orang umum (Shaum al-‘Umum) adalah puasa yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang atau sudah menjadi kebiasaan umum. Biasa-biasa saja, atau mungkin kalau di-scoring nilanya baru good, belum very good apalagi excellent. Praktik puasa yang dilakukan di level ini sebatas menahan haus dan lapar serta hal-hal lain yang membatalkan puasa secara syariat.
Puasa orang khusus (Shaum al-Khusus) adalah puasanya orang-orang spesial. Level ini nilainya very good. Mereka berpuasa lebih dari sekadar untuk menahan haus, lapar dan hal-hal yang membatalkan. Tapi mereka juga berpuasa untuk menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan segala anggota badannya dari perbuatan dosa dan maksiat. Mulutnya bukan saja menahan diri dari mengunyah, tapi juga menahan diri dari menggunjing, bergosip, apalagi memfitnah. Puasa di level kedua ini adalah puasanya orang-orang shalih.
Sedangkan puasa orang yang terkhusus (Shaum al-Khusus al-Khusus) adalah Inilah praktik puasanya orang-orang istimewa, excellent. Mereka tidak saja menahan diri dari maksiat, tapi juga menahan hatinya dari keraguan akan hal-hal keakhiratan. Menahan pikirannya dari masalah duniawiyah, serta menjaga diri dari berpikir kepada selain Allah. Puasa kategori level ketiga ini adalah puasanya para nabi, shiddiqin dan muqarrabin.
Dari sekian klasifikasi tersebut, kita termasuk dalam tingkatan yang nomor berapa? Apakah nomor satu atau dua dan seterusnya?. Imam Al-Ghazali mengklasifikasi orang berpuasa ke dalam tiga level, tak lain tujuannya adalah agar kita yang setiap tahun berpuasa bisa menapaki tangga yang lebih tinggi dalam kualitas ibadah puasanya. Wallahu A’lamu Bisshawab

Cr by : Muamar Qodafi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *